Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Biarlah..

Hujan tiada hentinya membasahi tanah pijak ini, para insan telah berlarian mencari perlindungan teduh. Namun, langkah tak ingin mendekati teduhan, inginnya melawan keadaan. Tanpa resah berjalan santai menghadang tetesan air dari atas sana. Berjalan tanpa peduli akan apa yang orang-orang perhatikan. Setiap tatap mata yang ada di sekitar, memandang heran pada raga yang tengah berjalan tanpa rasa galau itu. basah, hanya berlapis baju tipis di badannya. Entah apa yang dipikir. Seketika angin menambah kekuatannya untuk menghadang, semakin keras hempasannya, namun tetap dilawannya. seluruh gemuruh dan suara langit telah turut mendukung angin untuk menghadanganya, namun tetap tak gentar ia menghadapinya. Selangkah kemudian, ia melihat seseorang dihadapannya, berpayung menghalangi langkahnya, ia berhenti dan berkata "apa mau-mu ? minggirlah!" yang di ajak bicara hanya diam dan memandangnya dengan ekspresi yang tak dapat ditebak, berkata dengan angkuhnya "apakah kau bodoh dan sudah bosan hidup hah?! apa kau anggap tiada orang yang memikirkanmu? tiada orang yang melihatmu, merasakanmu, dan menyayangimu?". Tepat sekali, seluruh raga yg menghadang alam itu seketika tertunduk, tak kuat lagi menahan seluruh tubuhnya, berlutut, mencoba menghangatkan tubuhnya dengan mendekap tubuhnya dengan lengan basahnya. Akhirnya ia berkata lirih "kenapa harus kau yang datang.. aku tengah menyiapkan hatiku untuk tertinggal. Membiarkan seluruh hati dan ragaku rapuh terhempas badai sekalipun, biarkan aku.. pergilah.." lirih dan getir, mencoba se-munafik mungkin menerangkan isi hatinya. Biarlah..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS